V A N N Y N A R I T A MIMPI DAULAT VAKSIN SANG PENELITI

S EBAGAI Narita, 42 tahun, tak hanya jago kandang. Tahun lalu, ia menjadi wakil Indonesia pertama dan satu-satunya yang terpilih masuk Global Young Scientist New ilmuwan, Vanny Champion dalam World Economic Forum di Tianjin, Cina. Bersama 40 ilmuwan muda dunia lainnya, ia memberikan masukan kepada para pebisnis dan pemimpin dunia tentang inovasi. ”Saya ingat betapa terinspirasinya saat berada di sana,” katanya Kamis dua pekan lalu. Perempuan kelahiran Bogor ini menyandang gelar doktor bidang biologi molekuler dari University of Tennessee, Knoxville, Amerika Serikat, sejak berusia 28 tahun.

Kini dia peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi serta menjadi anggota konsorsium pengembangan vaksin hepatitis B, yang melibatkan lembaga tempatnya bernaung, PT Bio Farma, Institut Teknologi Bandung, dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Konsorsium yang bekerja sejak 2011 itu sudah mulai membuat prototipe vaksin hepatitis B generasi kedua, berdasarkan antigen small HBsAg. Vanny terlibat di konsorsium karena penasaran melihat Indonesia belum memiliki daulat vaksin dan masih terus saja menjadi pengimpor. ”Indonesia tak boleh terus-menerus menjadi pasar,” ujar dosen Universitas Al Azhar Indonesia ini. Dalam konsorsium itu, ia merupakan salah satu pemegang hak paten sub-unit bahan penyusun vaksin hepatitis B. Selain meneliti, Vanny aktif berkampanye tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati lewat program fellowship dari ASEAN-US Science and Technology. Ia juga menjadi anggota staf ahli Komite Inovasi National pada 2010-2014. Di mata anak didiknya, Vanny dianggap figur yang mampu merangsang pemikiran kreatif. Isnaeni, mantan mahasiswa Universitas Al Azhar, juga melihat Vanny sebagai teladan yang tetap bersemangat meneliti dan mengajar saat menderita sakit yang cukup lama. ”Daya juang beliau tinggi sekali,” katanya.

Tulisan ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.