Pola Makan Atlet Atletik Diubah

JAKARTA — Lalu Muhammad Zohri kali ini tidak berlari kencang. Dia berjalan santai bersama Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pada Minggu pagi lalu. Sejumlah atlet atletik juga ikut dalam acara “Gemar Makan Ikan” yang diselenggarakan di lapangan parkir Mal Sarinah Thamrin, Jakarta Pusat. Zohri adalah atlet asal Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, yang barubaru ini menjadi juara dunia lari 100 meter U-20 di Finlandia. Dia mengatakan sejak kecil sudah gemar makan ikan, terlebih tempat tinggalnya di Lombok berada di pinggir pantai dan ia terbiasa memanah ikan untuk dimasak. “Saya lebih suka ikan daripada daging. Biasanya makan ikan kembung yang banyak di kampung saya sama ikan tongkol,” kata Zohri. Menteri Susi mendukung gerakan makan ikan ini. Kandungan protein yang terbaik berasal dari ikan, katanya, sehingga kepintaran dan kesehatan itu juga pasti karena makan ikan. “Jadi kuat seperti Zohri, juara dunia lari 100 meter dunia di bawah usia 20 tahun, luar biasa. Rahasianya karena apa? Makan ikan,” kata Susi.

Seiring dengan acara tersebut, pemusatan latihan nasional atletik memutuskan mengubah pola makan para atletnya menjelang Asian Games 2018 yang tinggal dua pekan lagi. Langkah ini merupakan bagian dari perbaikan pola latihan secara keseluruhan. Salah satu faktor pendukung berubahnya asupan makanan ini juga terpengaruh setelah kemenangan Zohri di Kejuaraan Dunia Atletik Junior U-20. Saat di Finlandia, Zohri selalu minta makan nasi yang disediakan oleh Kedutaan Besar Indonesia di Finlandia. Ketua Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia, Bob Hasan, mengatakan pola makan para atlet atletik kini diubah. Kini setiap pagi makan roti, kentang, sereal, susu, telor, dan salad. Para atlet tak dilarang untuk makan nasi, hanya pola makannya yang diubah. “Nasi tetap diperbolehkan saat siang dan Ini merupakan bagian dari perbaikan pola latihan secara keseluruhan. malam hari, tapi ditambah steak dan ikan,” ujar Bob. Perubahan ini merupakan salah satu cara PB PASI memastikan atletnya siap bertarung di Asian Games 2018 mendatang. Selain itu, PB PASI menyewa ahli podiatri dari Irlandia dan Australia. Podiatri merupakan ilmu kedokteran yang memfokuskan diri di bidang kaki dan tubuh bagian bawah. “Podiatri ini mungkin kami baru mulai sekitar setahun terakhir,” kata Bob. Menghadapi Asian Games 2018, ada 58 atlet Indonesia yang akan bertarung di cabang olahraga terukur ini. Atletik tidak ditargetkan mendapat emas, tapi diharapkan ada atlet yang mampu membuat kejutan atau setidaknya meraih medali. Adapun rekor Zohri di kejuaraan dunia nomor 100 meter putra U-20 meraih catatan waktu 10,18 detik. Dengan catatan waktu itu, Zohri masih sulit bersaing dengan atlet papan atas dunia. Namun masa depannya masih panjang untuk bisa menambah kecepatan larinya. Zohri termasuk tim atletik nomor jarak pendek Indonesia di Asian Games nanti, selain Fadlin Ahmad, Bayu Kertanegara, Eko Rimbawan, dan Yaspi Boby. Mereka akan bersaing dengan para sprinter top Asia lainnya, seperti Su Bingtian (Cina/9,91 detik), Xie Zhenye (Cina/9,98 detik), Mohammed Abdullah Abkar (Arab Saudi/10,03 detik), Taftian Hassan (Iran/10,03 detik), Ryota Yamagata (Jepang/10,05 detik), dan Abdul Hakim Sani Brown (Jepang/10,05 detik)