Mengenal Rumah Tradisional Betawi Bagian 1

Ulang tahun Jakarta akan segera tiba, maka tidak ada salahnya kita membahas tentang budaya dan rumah masyarakat Betawi, yang merupakan penduduk asli kota Jakarta. Pada dasarnya, batas budaya Betawi yang luas tidak dapat ditetapkan seperti halnya batas provinsi. Ini karena budaya Betawi menyebar ke berbagai daerah di Jakarta dan sebagian Jawa Barat.

Namun demikian zona budaya Betawi ini tetap mempunyai batas tertentu, meskipun bukan merupakan batas nyata. Bila dilihat, batas maya zona budaya Betawi sebelah timur adalah sungai Citarum, batas barat adalah Cisadane, dan batas selatan adalah Bojong Gede. Untuk masyarakatnya sendiri, Betawi dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Betawi tengah, pesisir, dan pinggir. Yang termasuk Betawi tengah adalah daerah Kemayoran, Senen, Setiabudi, Kuningan, dan Tanah Abang.

Sedangkan yang termasuk Betawi pesisir adalah daerah Marunda, Cilincing, Tanjung Priok, dan Cengkareng. Pasar Minggu, Manggarai, dan Bojong Gede adalah daerah Betawi pinggir. Dari ketiga daerah Betawi tersebut, yang paling maju kehidupannya adalah daerah Betawi tengah. Hal ini disebabkan oleh masuknya pedagangpedagang Eropa dan Cina ke daerah ini.

Kemajuan ini dapat dilihat dari hal yang sepele, yaitu roti buaya yang merupakan roti khas Betawi. Roti buaya ini berasal dari Betawi tengah, karena bahanbahan roti pertama kali ada di daerah Betawi tengah. Bentuk rumah ketiga daerah ini pun berbeda-beda. Untuk daerah pesisir, rumah-rumah yang ada berbentuk rumah panggung.

Ini dimaksudkan untuk menghindari masuknya air laut ke dalam rumah. Sedangkan untuk daerah pinggir, biasanya rumahnya tidak ditinggikan, langsung berada di atas tanah. Daerah tengah, adalah daerah yang paling rendah, maka biasanya rumah-rumah di sini dibuat dengan sedikit ditinggikan dari permukaan tanah, sekitar 30-40 cm. Ini bertujuan untuk menghindari banjir yang sering melanda daerah ini.

JENDELA BUJANG

Dalam masyarakat Betawi, ada beberapa bagian rumah yang berhubungan dengan kebiasaan dalam masyarakat. Ini berkaitan dengan hubungan antara pria dan wanita. Dalam masyarakat Betawi, ada kebiasan kunjungan calon laki-laki ke rumah calon wanitanya, bersama dengan teman-temannya, untuk bergurau dan bercakapcakap sampai pagi.

Namun, ini tidak boleh dilakukan secara langsung, maka percakapan ini dilakukan melalui sebuah jendela yang disebut dengan jendela bujang. Jendela ini sebenarnya adalah sebuah jendela biasa di bagian depan rumah, yang bergaya Cina.

Selain itu, ada pula trampa (ambang pintu), yang tidak boleh diduduki oleh anak gadis, dan tidak boleh dilangkahi oleh laki-laki yang bukan anggota keluarga rumah tersebut. Anak gadis yang duduk di trampa , dianggap akan susah bertemu jodoh, sedangkan pemuda luar yang melangkahi trampa akan dipaksa mengawini anak gadis di rumah tersebut.

Meskipun rumah tradisional tak lengkap apabila dijaman sekarang ini tidak ada listrik. Untuk mendapatkan listrik secara penuh tanpa takut adanya pemadaman diperlukan sebuah genset yang tidak berisik untuk rumah. Harga genset murah bisa didapatkan melalui toko jual genset silent 200 Kva Banjarmasin. Karena harga yang bisa dinegosiasikan serta mesin yang original.

Artikel selanjutnya : https://lakewinnipesaukeemuseum.org/mengenal-rumah-tradisional-betawi-bagian-2/