Keindahan Kebun Teh Wonosari Jawa Timur

Jujur, saat melihat kalender 2013, saya kurang suka. Ketidaksukaan ini antara lain disebabkan karena banyak hari kejepit nasional alias harpitnas di tahun ini. Kamis libur, jumat masuk. Sebab lain ya karena efek yang diakibatkan oleh harpitnas tadi yaitu malas. Tapi artikel berikut bukan bermaksud mengajak Anda semua untuk tambah malas, namun lebih kepada usaha untuk membunuh rasa malas di hari kejepit nasional alias liburan pendek yang notabene cuma satu hari.

Bagi orang Surabaya seperti saya, Malang dan daerah sekitarnya menjadi alternatif jujukan liburan pendek. Walaupun hampir tiap akhir pekan, wilayah ini penuh dengan orang Surabaya yang mencari hawa dingin, Malang tetap tidak membosankan.

Tak jarang ditemui, orang-orang yang berwisata ke Malang hanya untuk makan jagung bakar di daerah payung atau makan bakwan Malang. Setelah kenyang dan hilang ‘sumuknya’, kembalilah orang-orang itu ke Surabaya yang nyaris panas sepanjang tahun. Sejarah Kota Malang sudah banyak diulas tapi kekhasannya tak habis diulas. Malang dikenal memiliki dialek khas yang disebut Boso Walikan, yakni cara pengucapan kata yang sengaja dibalik, misalnya Malang menjadi Ngalam, bakso menjadi oskab’ burung menjadi ngurub. Cara berbicara masyarakat Malang terkenal egaliter dan apa adanya, yang menunjukkan sikap masyarakatnya yang tegas, lugas dan tidak mengenal basa-basi.

Banyak julukan dilekatkan kepada Malang, tapi yang paling popular adalah kota susu, kota dingin dan kota apel. Dari tiga julukan itu, hanya kota dingin yang nyaris bergeser saat ini. Karena Malang sekarang, berbeda dengan Malang sepuluh tahun lalu yang masih terasa dingin walau tengah hari. Karena itu, kalau ingin tidak terjebak macet dan masih dapat hawa dingin, saran saya berangkat lebih pagi dari Surabaya. Saya ingin membuktikan bahwa Malang dan sekitarnya masih dingin… Untuk membuktikan hawa dingin Malang, sehari sebelumnya saya tetapkan tujuan saya yaitu kebun teh Wonosari. Sekilas banyak yang berpikir, buat apa ke kebun teh, toh yang dilihat hanya hamparan daun hijau sepanjang mata memandang. Semula saya juga berpikir seperti itu. Tapi karena saya sudah puas mengunjungi Cuban Rondo, Batu sampai Pantai Ngliyep, maka saya coba destinasi lain yaitu kebun teh Wonosari Malang.

Pemandangan Hijau

Kebun teh Wonosari terletak di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari dan lokasinya lebih mudah dijangkau dari Lawang. Kebun dengan luas sekitar 1.144 hektar ini terbagi atas 3 bagian; Kebun Wonosari (Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari), Kebun Gebug Lor (Desa Wonorejo, Kecamatan Lawang), dan Kebun Raden Agung (Desa Ambal-Ambal, Kecamatan Kejayan). Perjalanan ke hamparan hijau itu, hanya sekitar 1,5 jam dari Surabaya (tergantung kemacetan,Red).

Saat saya datang kesana, loket retribusi belum buka sehingga saya dengan leluasa masuk ke area kebun teh. Setelah sempat bingung beberapa saat karena minimnya petunjuk jalan, akhirnya saya bertemu pak Kukuh (salah seorang pegawai kebun teh, Red) yang dengan ramahnya menunjukkan jalan. Arah yang ditunjuk Pak Kukuh adalah kearah perbukitan teh. Sebelum menuju kesana, saya melewati jalan kecil yang hanya bisa dilalui satu mobil dan menemukan prasasti peringatan seabad perkebunan teh yang sudah ada sejak Tahun 1910. Berarti hingga saat ini, perkebunan itu telah berumur 103 tahun dan masih terawat dengan baik.

Tak berlebihan rasanya, bila saya menyematkan gelar kerajaan hijau untuk kebun teh Wonosari. Saat itu sekitar pukul tujuh pagi, para pemetik teh baru akan memulai aktivitas. Mereka mulai mengenakan pakaian kebesaran pemetik teh yang terbuat dari plastik dan hanya diikat tali seadanya. Saya tertarik dengan baju plastik itu. Sangat sederhana dan tentu tidak sulit membuatnya tapi fungsinya yang luar biasa. Baju itu bisa melindungi pakaian para pemetik teh dari hujan ataupun basahan embun. Disamping kanan kiri baju itu, terdapat kantong plastik besar yang berguna untuk menampung hasil petikan pucuk teh.

Sambil bekerja, mereka mengunyah singkong rebus sebagai ganti sarapan dan ada pula beberapa orang yang mengunyah sirih sehingga bibir mereka terlihat merah. Pagi itu kabut masih tebal disana tapi tak mampu menutupi kemungkinan akan turun hujan. Salah seorang sinder alias mandor penjaga kebun disana yang bernama Pak Samin mengatakan, curah hujan yang cukup besar dan tidak menentu belakangan ini menyebabkan penurunan produksi teh. Pak Samin yang bekerja di perkebunan itu sejak Tahun 1977 sangat merasakan penurunan produksi tersebut.

Lebih dari separuh kapasitas produksi penurunannya dari luas lahan sekitar 316 Ha, kata Pak Samin. Namun bila musim hujan berlalu, maka produksi teh akan kembali normal. Selain menyuguhkan pesona hamparan kebun teh hijau yang luas, kebun ini juga memiliki tempat rekreasi, tempat untuk menginap, serta fasilitas untuk berolahraga. Untuk mengelilingi kebun teh yang suangat luas ini, disediakan sebuah kereta mini. Selain itu, kebun teh ini juga mempunyai sebuah kolam renang air hangat. Para pengunjung dapat menghangatkan tubuh di tengah udara dingin perkebunan.

Teh yang telah di panen dari perkebunan diolah menggunakan mesin modern. Mulai dari pengeringan, sortir hingga pengemasan semuanya dikerjakan mesin. Ada pula genset yang ukuranya sangat besar ditempat pengolahan. Pantas saja jika produksi teh setiap hari bisa maksimal karena memiliki listrik cadangan dari genset.

Genset yang digunakan merek Isuzu dan didatangkan dari toko jual genset Isuzu di Banjarmasin beberapa tahun silam. Merek Isuzu menjadi pilihan karena mesin bekerja secara optimal, ramah terhadap lingkungan dan mempunyai teknologi peredam suara genset saat digunakan.

Bagi pecinta petualangan, disediakan pula sarana untuk outbond dan APV. Karena saya datang di pagi hari, aktivitas tersebut belum terlihat. Pemandangan menarik lainnya adalah melihat sebuah pabrik pengolahan daun teh yang hasilnya lebih banyak di ekspor. Pengolahan teh-nya sendiri melalui beberapa proses antara lain penerimaan pucuk teh, proses pelayuan, proses penggilingan, fermentasi,pengeringan,sortasi,pengepakan,dan pengiriman.