F E N N Y M A R T H AD W I V A N Y BERKAT SEBUAH PISANG

http://109.199.119.180/ B ANANA Fenny Martha Dwivany, pengajar di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Ban dikenal oleh para kolega dan muridnya. Dia begitu intens Lady. Demikian dung, ”menguliti” buah itu selama 12 tahun terakhir. ”Tidak bisa berhenti karena makin penasaran, saya berfokus saja di pisang,” kata Fenny, Kamis pekan lalu. Semua berawal saat dia melihat pisang yang dijajakan ke rumahnya tak secantik di supermarket. Kulitnya menghitam seperti busuk. Fenny menduga buah-buah itu matang terlalu cepat. Dia ingin membantu para penjual keliling agar pisang-pisang mereka tetap segar setelah menempuh rantai distribusi dan perjalanan panjang dari kebun petani. Pada tanaman, ada gen yang berperan memproduksi etilen—satu-satunya hormon berupa gas—yang mempengaruhi kematangan buah. Gas etilen menguar dari kulit pisang yang terluka atau bonyok. Kerusakan pada satu pisang bisa menular ke pisang-pisang lain. Fenny pun mempelajari gen pisang ambon lumut yang mempengaruhi proses pematangan buah.

”Itu riset pertama saya soal pisang,” ujar Fenny, yang meraih gelar doktor bidang biologi molekuler di University of Melbourne, Australia. Berkat risetnya, peneliti kelahiran Bandung ini meraih International L’Oreal-UNESCO For Women in Science Award pada 2007. ”Dia tidak mudah menyerah,” kata koleganya, Husna Nugraha Praja, doktor bidang agrobiodiversitas lulusan Scuola Superiore Sant’Anna, Italia. Fenny dan timnya telah membuat wadah berbahan bambu berteknologi nano agar buah awet. Mereka juga terlibat dalam riset pengiriman buah ke luar angkasa sejak 2007. Berkat karyanya, Fenny memperoleh Institut Teknologi Bandung Innovation Award tahun lalu. Januari lalu, dia diganjar penghargaan dari The Southeast Asian Regional Center for Graduate Study and Research in Agriculture. Namun Fenny menolak disebut sebagai pakar pisang. ”Saya masih harus belajar karena teknologi dan pengetahuan berkembang pesat,” ujarnya

Tulisan ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.